MANUSIA DICIPTAKAN?

TERAS KECERDASAN MANUSIA PENCIPTAAN  MANDAT DARI TUHAN ALLAH PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN LINGKUNGAN HIDUP MEMULIS JURNAL MASA DEPAN MANUSIA PERGAULAN-PERSAHABATAN PACARAN dan PERTUNANGAN PERKAWINAN   UU NO 1 TAHUN 1974 KELUARGA  KRISTEN TANGGUNGJAWAB ANGGOTA KELUARGA PERCERAIAN ZIONISME KRISTEN ARAB PRA-ISLAM GURU SEBAGAI KONSELOR SYLABUS MK AGAMA TUGAS DAN PANGGILAN GEREJA FONDASI PENDIDIKAN KRISTEN TAHAP PERKEMBANGAN IMAN

Stat Counter
how to track websites

PENCIPTAAN

Pada mulanya, waktu Allah mulai menciptakan alam semesta [Pada mulanya, waktu Allah mencipatakan alam semesta, atau Pada waktu Allah mulai menciptakan alam semesta, atau Pada mulanya Allah menciptakan alam semesta], bumi belum berbentuk, dan masih kacau-balau. Samudra yang bergelora, yang menutupi segala sesuatu, diliputi oleh gelap gulita, tetapi kuasa Allah bergerak di atas permukaan air, [Dalam bahasa Ibrani, kuasa Allah bergerak boleh juga diterjemahkan, tetapi Roh Allah; atau dan angin dari Allah; atau dan angin besar], [Kejadian 1 : 1 - 2, Alkitab Bahasa Indonesia Sehari-hari © LAI].

 
Iman Kristen percaya dan memahami bahwa, “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan,” Yoh 1:1-3.
Ia yang ada pada mulanya itu adalah TUHAN, Allah Yang Maha Kuasa. Kehadiran-Nya itu, mengungkapkan hakekat atau keberadaan-Nya sebelum segala sesuatu ada; atau sebelum ada segala sesuatu Ia sudah ada; Ia tetap ada setelah ada menjadi tidak ada.ada itu ada; dan tetap ada setelah akhir itu berakhir; Ia kekal, sehingga tidak terbatas pada Yang Pertama dan yang Terkemudian serta Yang Awal dan Yang Akhir, Wah 1:1-17; 22:12-13. Keberadaan-Nya tak terbatas oleh dimensi apapun.
TUHAN Allah sudah ada sebelum ada itu ada; dan tetap ada setelah akhir itu berakhir; Ia kekal, sehingga tidak terbatas pada Yang Pertama dan yang Terkemudian serta Yang Awal dan Yang Akhir, Wah 1:1-17; 22:12-13.
Sebelum peristiwa penciptaan, hanya chaos atau kekosongan, gelap gulita, tak terbentuk, ketidakadaan dan ketidakaturan. Hanya Roh TUHAN Allah yang hadir atau ada di atas ketiadaan itu. Dan karena kemahakuasaan-Nya, maka ada keteraturan alam semesta. Keteraturan itu tidak hanya terbatas di Bumi, tetapi melingkupi semua unsur yang pada alam semesta. Dan dari ketiadaan tersebut, Ia menciptakan [dengan cara berfirman] maka segala sesuatu ada; atau menciptakan secara creatio ex-nihilo [dari tidak ada dan kosong menjadi ada]. Ia membentuk dari yang tak terbentuk; mengisi sesuatu pada kekosongan; menciptakan terang untuk mengganti kegelapan; Ia mengatur segala sesuatu agar semua menjadi teratur.
 
Kejadian 1:1 - 2:4a, menunjukkan adanya urutan penciptaan, yaitu hari pertama, terang; hari kedua, cakrawala; hari ketiga, daratan dan lautan, daratan yang menumbuhkan tunas-tunas muda, tumbuhan berbiji, segala jenis pohon buah-buahan yang menghasilkan buah yang berbiji; hari keempat, benda-benda penerang pada cakrawala yakni matahari, bulan dan bintang-bintang, untuk memisahkan terang dari gelap sebagai petunjuk waktu; hari kelima, burung-burung, dan binatang-binatang di laut; hari keenam, binatang liar, ternak dan binatang melata yang merayap, dan kemudian manusia; hari ketujuh, TUHAN Allah berhenti dan menyelesaikan pekerjaan-pekerjaanNya lalu memberkati hari ketujuh itu dan menguduskannya.
 
TUHAN Allah melihat hasil ciptaan-Nya itu sebagai sesuatu yang sungguh amat baik; hal ini menunjukkan keindahan, keutuhan, dan kesempurnaan karya-Nya; sekaligus terlihat atau nampak pada urutan penciptaan, yaitu, tahapan atau hari penciptaan; tingkatan penciptaan; dan deretan penciptaan.

 

13497010811881233982
 

Gambar [Ibrani, tselem] atau akal budi, akal sehat, norma-norma, kebebasan moral, dan lain-lain. Rupa [Ibrani, demut] atau sesuai asli, sama seperti aslinya.

Kata bahasa Ibrani dalam Alkitab, tentang penciptaaan manusia, digunakan istilah bara[menciptakan atau ciptakan sesuatu yang khas dan tidak sama dengan siapa dan apa pun], bermakna hasil buatan yang lengkap, utuh, serta sempurna sehingga tidak perlu dirubah atau dibentuk ulang. Artinya, sesuai kesaksian Alkitab, jika TUHAN Allah menciptakan alam semesta dan isinya hanya dengan berfirman, namun manusia melalui cara yang berbeda; sebagai bara Elohiym [Ibrani] atau ciptaan Allah, manusia mempunyai aspek yang berbeda dengan apapun dan siapapun.

Karena sebagai gambar dan rupa-Nya, maka manusia harus diciptakan melalui suatu proses, pertimbangan, bahkan sedetail mungkin. Oleh sebab itu, sebelum penciptaan manusia, ada dialog antara para Ilahi yang berujung pada suatu keputusan tepat mengenai bentuk dan hakekat manusia.

Kemudian, TUHAN Allah membentuk pra-manusia dari debu tanah [jadi bukan keturunan kera atau hasil evolusinya]; setelah pra-manusia terbentuk, Ia menghembuskan nafas hidup melalui lubang hidung pra-manusia tersebut; karena nafas hidup dari TUHAN Allah maka pra-manusia menjadi makhluk hidup yang disebut manusia.

Manusia adalah rupa dan gambar TUHAN Allah atau Imago Dei. Sebagai Imago Dei, manusia, mempunyai kekhasan, misalnya, berbeda dari makhluk-makhluk lain; manusia adalah satu-satu makhluk hidup yang mempunyai hubungan dengan-Nya; manusia sebagai mitra kerja TUHAN Allah untuk menatalayani dunia; manusia memiliki kebebasan dan tanggung jawab penuh terhadap pengelolaan hidupnya kepada TUHAN Allah.

Kebebasan tersebut, selalu dikaitkan dengan kebebasan yang bertanggungjawab terhadap Penciptanya, yaitu TUHAN Allah. Manusia sebagaiImago Dei, menurut Martin Luther, bermakna ia memiliki tabiat [harusnya selalu tetap dimiliki] taat kepada TUHAN Allah; sejak semula manusia adalah makhluk yang berakal dan serupa dengan TUHAN Allah. Manusia memiliki pengetahuan tentang TUHAN Allah, kebenaran, dan kekudusan.

Setelah manusia jatuh ke dalam dosa, gambar dan rupa tersebut menjadi hilang; menurut Yohanes Calvin, gambar TUHAN Allah merupakan hakekat manusia yang tidak dapat berubah [hakekat manusia yang tidak dapat berubah ialah akal, kehendak, dan kepribadian], sedangkan rupa adalah sifat sifat manusia yang dapat berubah.
 
 
 
Oleh Jappy Pellokila
 

PENCIPTAAN MANUSIA

26 Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi." 27Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. [Kejadian 1:26-27]; ... ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup, [Kejadian 2 : 7].

28Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: "Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi." 29Berfirmanlah Allah: "Lihatlah, Aku memberikan kepadamu segala tumbuh-tumbuhan yang berbiji di seluruh bumi dan segala pohon-pohonan yang buahnya berbiji; itulah akan menjadi makananmu. 30 Tetapi kepada segala binatang di bumi dan segala burung di udara dan segala yang merayap di bumi, yang bernyawa, Kuberikan segala tumbuh-tumbuhan hijau menjadi makanannya" [Kejadian 1:28-30].

18TUHAN Allah berfirman: "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia." 21Lalu TUHAN Allah membuat manusia itu tidur nyenyak; ketika ia tidur, TUHAN Allah mengambil salah satu rusuk dari padanya, lalu menutup tempat itu dengan daging. 22Dan dari rusuk yang diambil TUHAN Allah dari manusia itu, dibangun-Nyalah seorang perempuan, lalu dibawa-Nya kepada manusia itu. 23Lalu berkatalah manusia itu: "Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki." 24 Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging. 25 Mereka keduanya telanjang, manusia dan isterinya itu, tetapi mereka tidak merasa malu, [Kejadian 2:18-25].

Tahapan atau hari Penciptaan

  • Terang
  • Cakrawala
  • Laut, darat, tumbuhan
  • Benda-benda Penerang
  • Ikan dan burung 
  • Binatang darat 
  • Manusia 

Deretan Penciptaan

  • Terang 
  • Udara, Air 
  • Darat 
  • Benda pembawa terang 
  • Binatang di udara dan di air 
  • Binatang darat dan Manusia

Tingkatan Penciptaan

  • Benda-banda yang tidak hidup 
  • Benda hidup tapi tidak bergerak 
  • Benda yang hidup dan bergerak, mempunyai instink, dan lain-lain 
  • Benda yang hidup, bergerak, mempunyai perasaan, jiwa, roh, dll  

 

PENCIPTAAN MANUSIA

26 Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi." 27Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. [Kejadian 1:26-27]; ... ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup, [Kejadian 2 : 7].

28Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: "Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi." 29Berfirmanlah Allah: "Lihatlah, Aku memberikan kepadamu segala tumbuh-tumbuhan yang berbiji di seluruh bumi dan segala pohon-pohonan yang buahnya berbiji; itulah akan menjadi makananmu. 30 Tetapi kepada segala binatang di bumi dan segala burung di udara dan segala yang merayap di bumi, yang bernyawa, Kuberikan segala tumbuh-tumbuhan hijau menjadi makanannya" [Kejadian 1:28-30].

18TUHAN Allah berfirman: "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia." 21Lalu TUHAN Allah membuat manusia itu tidur nyenyak; ketika ia tidur, TUHAN Allah mengambil salah satu rusuk dari padanya, lalu menutup tempat itu dengan daging. 22Dan dari rusuk yang diambil TUHAN Allah dari manusia itu, dibangun-Nyalah seorang perempuan, lalu dibawa-Nya kepada manusia itu. 23Lalu berkatalah manusia itu: "Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki." 24 Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging. 25 Mereka keduanya telanjang, manusia dan isterinya itu, tetapi mereka tidak merasa malu, [Kejadian 2:18-25].


Semua agama samawi mempunyai pandangan yang hampir sama tentang asal usul manusia. Ajaran agama-agama tersebut, walaupun dengan pengungkapan yang berbeda, setuju bahwa TUHAN Allah menciptakan alam semesta dan segala sesuatu yang terbentang di dalamnya, termasuk manusia.
 
Menurut Alkitab, TUHAN Allah menciptakan manusia pada akhir hari-hari penciptaan, setelah ada flora, fauna serta benda-benda lainnya. Semuanya itu sebagai sarana persiapan untuk kehadiran manusia. Ia mempersiapkan segalanya dengan sempurna, sebelum ada mahkota penciptaan. Dengan demikian, jika TUHAN Allah menciptakan alam semesta, flora dan fauna hanya dengan berfirman, namun manusia melalui cara yang berbeda. 


MANUSIA SEBAGAI IMAGO DEI

Gambar [Ibrani, tselem] atau akal budi, akal sehat, norma-norma, kebebasan moral, dan lain-lain. Rupa [Ibrani, demut] atau sesuai asli, sama seperti aslinya.


Kata bahasa Ibrani dalam Alkitab, tentang penciptaaan manusia, digunakan istilah bara [menciptakan atau ciptakan sesuatu yang khas dan tidak sama dengan siapa dan apa pun], bermakna hasil buatan yang lengkap, utuh, serta sempurna sehingga tidak perlu dirubah atau dibentuk ulang. Artinya, sesuai kesaksian Alkitab, jika TUHAN Allah menciptakan alam semesta dan isinya hanya dengan berfirman, namun manusia melalui cara yang berbeda; sebagai bara Elohiym [Ibrani] atau ciptaan Allah, manusia mempunyai aspek yang berbeda dengan apapun dan siapapun.

Karena sebagai gambar dan rupa-Nya, maka manusia harus diciptakan melalui suatu proses, pertimbangan, bahkan sedetail mungkin. Oleh sebab itu, sebelum penciptaan manusia, ada dialog antara para Ilahi yang berujung pada suatu keputusan tepat mengenai bentuk dan hakekat manusia.
Kemudian, TUHAN Allah membentuk pra-manusia dari debu tanah [jadi bukan keturunan kera atau hasil evolusinya]; setelah pra-manusia terbentuk, Ia menghembuskan nafas hidup melalui lubang hidung pra-manusia tersebut; karena nafas hidup dari TUHAN Allah maka pra-manusia menjadi makhluk hidup yang disebut manusia.
 
Manusia adalah rupa dan gambar TUHAN Allah atau Imago Dei. Sebagai Imago Dei, manusia, mempunyai kekhasan, misalnya, berbeda dari makhluk-makhluk lain; manusia adalah satu-satu makhluk hidup yang mempunyai hubungan dengan-Nya; manusia sebagai mitra kerja TUHAN Allah untuk menatalayani dunia; manusia memiliki kebebasan dan tanggung jawab penuh terhadap pengelolaan hidupnya kepada TUHAN Allah.
 
Kebebasan tersebut, selalu dikaitkan dengan kebebasan yang bertanggungjawab terhadap Penciptanya, yaitu TUHAN Allah. Manusia sebagai Imago Dei, menurut Martin Luther, bermakna ia memiliki tabiat [harusnya selalu tetap dimiliki] taat kepada TUHAN Allah; sejak semula manusia adalah makhluk yang berakal dan serupa dengan TUHAN Allah. Manusia memiliki pengetahuan tentang TUHAN Allah, kebenaran, dan kekudusan.
 
Setelah manusia jatuh ke dalam dosa, gambar dan rupa tersebut menjadi hilang; menurut Yohanes Calvin, gambar TUHAN Allah merupakan hakekat manusia yang tidak dapat berubah [hakekat manusia yang tidak dapat berubah ialah akal, kehendak, dan kepribadian], sedangkan rupa adalah sifat sifat manusia yang dapat berubah.
 
 
Di samping sebagai Imago Dei, atau Citra Allah, di Taman Eden, TUHAN Allah melengkapi manusia dengan berbagai hal, antara lain, [Lihat Kejadian 2:8-25];

Kelengkapan hidup dan kehidupan serta mandat tersebut, merupakan suatu hak mutlak yang TUHAN Allah berikan kepada manusia. Ia juga menempatkan manusia dan semua makhluk hidup pada situasi dan lingkungan yang tertata dengan baik; belum tersentuh dengan polusi apa pun.
Semuanya itu, sekali lagi membuktikan bahwa adanya pemeliharaan TUHAN Allah kepada semua ciptaan, makhluk yang hidup maupun mati.
 
Dari antara semua ciptaan tersebut, manusia merupakan ciptaan yang paling sempurna. Manusia seringkali disebut juga mahkota ciptaan, karena mempunyai banyak kelebihan jika dibandingkan dengan segala sesuatu yang ada di alam semesta; dan tidak ada satu makhlukpun bisa dibandingkan dengan manusia.
 

KEBUTUHAN MANUSIA

  • Adanya kelengkapan kebutuhan dasar hidup dan kehidupan manusia [makanan, miuman, pakaian, tempat tinggal]
  • Pekerjaan atau bekerja [memberi nama dan menata ciptaan; mengelola dan menata flora dan fauna]

  • Aktualisasi atau percaya diri

  • Rasa Aman, hidup tanpa rasa takut kepada siapapun

  • Kasih Sayang, adanya perbedaan gender, antara laki-laki dan perempuan agar mereka saling mengasihi dan dikasihi, menghor-mati, menolong, dan lain lain

  • Mempunyai hubungan dan berdialog dengan TUHAN Allah atau berhubu-ngan dengan Tuhan TUHAN Allah


HAK ASASI MANUSIA

  • Hak untuk memperoleh kehidupan layak dengan adanya makanan-minuman, tempat tinggal, pakaian

  • Hak untuk memperoleh pekerjaan

  • Hak untuk mengaktualisasi diri, serta bebas mengungkapkan pendapat

  • Hak untuk memiliki rasa aman

  • Hak beragama dengan bebas serta aman, tidak diganggu oleh siapapun


MANDAT YANG TUHAN ALLAH BERIKAN KEPADA MANUSIA

  • Mandat meningkatkan kualitas hidup dan kehidupannya

  • Mandat  untuk memperjuangkan HAM

  • Mandat untuk menggunakan, menge-lola mengembangkan hasil ciptaan


 

 

Oleh

JAPPY PELLOKILA